Latest Entries »


KELUARGA dan FENOMENA PERNIKAHAN DINI
Oleh IMAM WAHYUDI
Ketika membaca “Sehari, Satu Gadis Nikah Dini”(Radar Blitar 8 Oktober 2010) memunculkan pertanyaan besar bagi kita. Begitu mudahnya mereka menikah (membentuk keluarga/rumah tangga), padahal diusia yang belum genap 20 tahun. Mereka masih belum matang dalam membangun rumah tangga, mereka belum memahami apa fungsi dan tujuan dari pernikahan tersebut.
Dalam hal ini penulis melihat betapa urgentnya membangun sebuah keluarga guna kesuksesan kehidupan mereka kelak. Keluarga harus dikonstruks/bangun dengan pondasi yang kuat. Mereka yang siaplah yang akan mampu membangun dengan baik. Adapun dampak nyata jika mereka belum siap membangun rumah tangga adalah : terjadinya perceraian, broken home, tidak terawatnya anak anak mereka dan lain sebagainya. Yang semuanya berdampak secara langsung ke anak anak mereka. Sehingga munculnya fenomena kenakalan remaja berawal dari mereka yang belum siap membangun rumah tangga (pernikahan dini) dan secara berkelanjutan anak anak yang mereka hasilkan cenderung bermasalah. Untuk itu penulis mencoba memunculkan pentingnya membangun keluarga yang baik, karena tanpa kita sadari bahwa keluargalah kunci kesuksesan kita. Agar masyarakat memahami dampak dari pernikahan dini tersebut.
Dalam kehidupan masyarakat disekitar kita, seringkali mendengar orang-orang yang membangun karir selama bertahun-tahun akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di perusahaan tapi akhirnya pudar oleh perilaku istrinya dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada yang disegani dan dihormati di lingkungannya tapi oleh anak istrinya sendiri malah dicaci, sehingga kita butuh sekali keseriusan untuk menata strategi yang tepat, guna meraih kesuksesan yang benar-benar abadi dan hakiki. Jangan sampai kesuksesan kita semu. Merasa sukses padahal kegagalan yang sebenarnya dirasakan, merasa mulia padahal hina, merasa terpuji padahal buruk, merasa cerdas padahal bodoh, mereka merasa tertipu dalam kenyataannya.
Kalau kita simak lebih jauh ada beberapa penyebab kegagalan seseorang dalam membina keluarga diantaranya :Karena orang tua tidak pernah punya waktu yang memadai untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang tua kebanyakan terlalu sibuk dengan kantor, urusan luar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh. Karena orang tua tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan.
Sebagian orang hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.
Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (base), Kita harus jadikan keluarga kita menjadi basis ketentraman jiwa. Bapak pulang kantor begitu lelahnya harus rindu rumahnya menjadi oase ketenangan. Anak pulang dari sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman, kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah.
Agar rumah kita menjadi sumber ketenangan, maka perlu diupayakan: Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur’an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.
Seisi rumah Bapak, Ibu, anak dan orang yang ada dirumah tersebut harus punya kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.
Rumah kita harus menjadi “Rumah Ilmu” Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.
Rumah harus menjadi “Rumah pembersih diri” karena tidak ada orang yang paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain. Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluar banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.
Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik.
Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya. Masyarakat semakin menyadari akan dampak negatif pernikahan dini tersebut. Mudah-mudahan tumah tangga yang kita bina dapat menjadi tauladhan bagi masyarakat disekitar kita. Setelah masyarakat sekitar kita terbina dengan baik akan meluber pada bangsa dan Negara kita yang sedang mengalami krisis multi dimensial ini.

Blognya Master Internet


Silahkan Klik disini untuk mengetahui bagaimana aplikasi internet dengan HP.


inilah file foto sizer

Silabus Matematika


[issuu width=420 height=148 backgroundColor=%23222222 documentId=111108044854-de698892491e4039be217ab2810825fe name=matematika_pak_wahyudi username=imam_wahyudi tag=education unit=px id=a5380799-dabf-4fc9-0e2c-22f02a72c2fa v=2]


membuat segitiga perlu menggunakan banyak latihan, maka jika kita ingin membuat segitiga silahkan lakukan seperti yang kami contohkan.
adapun untuk video bisa untuk di download disini

Memahami Matematika


Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, karena matematika sebagai aktivitas manusia kemudian pengalaman diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam struktur kognitif, sehingga sampailah pada suatu kesimpulan berupa konsep-konsep matematika.

Download file JAR,klik disini
Selamat mencoba


COOPERATIF LEARNING MATEMATIKA DENGAN Think Pair Share (TPS)
Oleh IMAM WAHYUDI

Pembukaan MML

Pembukaan MML

Belajar merupakan suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri peserta didik yaitu bertambahnya pengetahuan dan kecakapan baru yang terjadi melalui suatu usaha bukan karena kematangan. Adapun ciri-ciri kegiatan yang disebut belajar adalah: (1) belajar adalah aktivitas individu yang menghasilkan perubahan kemampuan berpikir menjadi meningkat, (2) dari perubahan tersebut diperoleh kemampuan baru secara tidak kebetulan, (3) perubahan itu terjadi karena usaha, (4) perubahan itu bersifat sementara.
Adapun hakekat matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur menurut urutan yang logis. Jadi matematika berkenaan dengan konsep-konsep abstrak. Belajar matematika melibatkan suatu struktur hirarki dari konsep-konsep tingkat lebih tinggi yang dibentuk atas dasar apa yang telah terbentuk sebelumnya. Hal ini berarti bahwa konsep-konsep matematika yang tingkatnya lebih tinggi tidak mungkin bila prasyarat yang mendahului konsep-konsep itu belum dipelajari.
Untuk mengaktifkan siswa dalam belajar salah satunya dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning). Pembelajaran kooperatif mengacu pada berbagai metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk membantu satu sama lain dalam belajar materi. Tanggung jawab anggota kelompok kecil ini tidak hanya untuk belajar apa yang diajarkan, melainkan juga untuk membantu teman sekelompoknya dengan bekerjasama membahas tugas sampai semua anggota kelompok berhasil memahami sepenuhnya.
Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think Pair Share)
Think Pair Share (TPS) adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Profesor Frank Lyman dan kawan-kawan di Universitas Maryland pada tahun 1981. Pembelajaran tipe TPS bermanfaat untuk melatih siswa mengkonstruk kembali pengetahuan yang sudah mereka punyai. TPS memberikan kesempatan kepada siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain. Nama Think Pair and Share berasal dari tiga tahap kegiatan siswa yang menekankan pada apa yang dikerjakan siswa pada setiap tahap.
Adapun ketiga tahap tersebut yaitu berpikir (thinking), berpasangan (pair) dan berbagi (share). Untuk langkah think (berfikir), siswa diminta untuk berpikir secara individu dan siswa harus berusaha semaksimal mungkin karena harus melaporkan jawabannya kepada teman kelompoknya. Langkah pair (berpasangan) siswa akan berpasangan untuk mendiskusikan jawaban yang telah dipikirkannya dan berbagi pendapat untuk memperoleh jawaban yang sempurna. Dalam langkah ini dapat meningkatkan partisipasi siswa dan siswa menjadi lebih aktif dalam belajar. Sedangkan langkah share (berbagi) siswa mempresentasikan jawaban kelompoknya dan mendiskusikan bersama dengan semua teman kelasnya. Dengan adanya pembelajaran seperti ini dimungkinkan selain melatih tanggung jawab siswa secara individu maupun kelompok, siswa juga lebih aktif lagi dalam belajar. Karena siswa harus menguasai materi yang ada untuk mempresentasikan jawabannya. Sehingga siswa lebih berusaha untuk memahami materi tersebut dengan bertukar pikiran atau bertanya jika ada yang belum dipahami.
Keuntungan dan keunggulan Think Pair and Share adalah sebagai berikut:
1. Think Pair and Share mudah diterapkan dalam berbagai jenjang pendidikan dan dalam setiap kesempatan.
2. Menyediakan waktu berfikir untuk meningkatkan kualitas respon siswa.
3. Siswa menjadi lebih aktif dalam berfikir mengenai konsep dalam mata pelajaran.
4. Siswa lebih memahami tentang konsep pelajaran selama diskusi.
5. Siswa dapat belajar dari siswa lain.
6. Setiap siswa dalam kelompoknya mempunyai kesempatan untuk berbagi/menyampaikan idenya.
Pembelajaran kooperatif tipe TPS membantu menstruktur diskusi sehingga siswa mengikuti proses tertentu yang dapat membatasi pikiran siswa melantur dan tingkahnya menyimpang. Hal ini dikarenakan siswa dituntut untuk berpikir secara individu dan melaporkan kepada teman kelompoknya.
Pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat meningkatkan kemampuan bertanya siswa, terutama tahap berpasangan (pair). Pada tahap berpasangan, siswa lebih berani dan aktif bertanya pada teman dan pada guru. Dengan demikian dapat diketahui bahwa metode pembelajaran kooperatif tipe TPS mampu meningkatkan kemampuan afektif siswa. Aspek afektif mempunyai tujuan yang banyak berkaitan dengan aspek perasaan, nilai, sikap, dan minat perilaku peserta didik atau siswa.
Langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan model kooperatif tipe TPS adalah sebagai berikut:
a. Tahap Pendahuluan
Tahap pendahuluan ini digunakan untuk menyiapkan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap pendahuluan adalah sebagai berikut:
• Membuka pelajaran
• Menyampaikan tujuan pembelajaran
• Guru memotivasi rasa keingintahuan siswa tentang materi yang akan dipelajari
• Memberikan penjelasan tentang metode pembelajaran TPS yang akan digunakan dalam pembelajaran kali ini
• Membentuk kelompok
b. Tahap Inti
1. Tahap Think, meliputi:
• Menggali pengetahuan awal tentang materi yang akan dipelajari serta mempertajam pemahaman materi dengan memberikan pertanyaan kepada siswa oleh guru. Sehingga siswa mengkonstruksi pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang lama.
• Memberikan motivasi kepada siswa agar siswa menjadi lebih aktif dengan memberikan poin bagi siswa yang mau aktif dalam pembelajaran yaitu dengan bertanya jika terdapat hal-hal yang belum dipahami, menjawab pertanyaan guru atau siswa dan bersedia untuk sharing pada tahap share.
• Guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) pada masing-masing siswa, dan siswa diminta untuk memikirkannya secara individu untuk mencari penyelesaiannya.
2. Tahap Pair
• Siswa secara berpasangan mendiskusikan penyelesaian dari soal-soal yang terdapat pada LKS dengan melaporkan hasil pemikirannya kepada pasangannya dan mendiskusikan bersama.
• Guru mengontrol kerja siswa dalam berdiskusi dan membantu siswa mengarahkan jika masih terdapat hal-hal yang belum dipahami.
3. Tahap Share
• Siswa secara berpasangan mempresentasikan hasil diskusinya kepada teman-temannya secara klasikal sehingga terbentuk diskusi kelas.
• Siswa yang lain menanggapi presentasi dari pasangan siswa yang sharing.
• Peneliti (guru) memimpin jalannya diskusi kelas pada tahap share serta memberikan motivasi kepada siswa yang lain agar lebih aktif dengan memberikan poin bagi siswa yang aktif dalam pembelajaran.
• Guru member penguatan terhadap hasil diskusi.
c. Tahap Penutup
• Pada tahap penutup, guru menegaskan kembali materi yang dirasa masih kurang dipahami oleh siswa.
• Guru bersama siswa merefleksi pembelajaran yang telah dilaksanakan.
• Guru menetapkan kelompok yang mendapatkan poin paling banyak.
• Mengadakan tes akhir setiap selesai materi sesuai dengan materi pada masing-masing siklus
Demikian pelaksanaan Cooperatif learning Think pair share dalam pembelajaran matematika. Mudah mudahan dengan pelaksanaan TPS tersebut dapat meningkatkan prestasi anak didik kita.


bagi yang membutuhkan pengumuman hasil seleksai CPNS Kabupaten Blitar silahkan klik disini


Bagi teman teman yang membutuhkan pengumuman CPNSD kabupaten tulungagung silahkan klik disini


Bagi temen teman yang membutuhkan informasi tentang Pendaftaran CPNSD Kabupaten Kediri silahkan klik tautan ini


http://www.kediri.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=560&Itemid=409

Imam Wahyudi, S.Pd, M.PdI dan Zulham Hakim, SH, MH

Imam Wahyudi, S.Pd, M.PdI dan Zulham Hakim, SH, MH santai saat Prajabatan

Artikel Keputusan


artikel keputusan
http://www.ziddu.com/download/12614793/ARTIKELKEPUTUSAN.docx.html